He and I

Hi world,

my illustration for valentine gift

my illustration for valentine gift

Lagi kangen sekaligus sebel sama dia soalnya ga bisa ketemuan. Jadi mending cerita aja, soal kita.

Gw kenal sama dia dari temen kecil, Nadia ( sikucingmanis ) karena gw minta vendor cetakan display. Jadi gw as freelance graphic designer dan dia usaha POS display. Buat yang ga mengerti, kita sebut saja dia tukang kardus, haha *ini dia sendiri yang suka sebut!*

Dari project bareng itu, gw sm dia jadi makin sering ketemu untuk meeting n curhat – curhatan. Awalnya gw anggep dia cuma temen. Pertama, umur dia lebih muda 3 tahun, which impossible deh dalam kamus gw. Kedua, he is already in a serious relationship. Ketiga, gw juga lagi deket sama gebetan kenal dari tinder apps *yes, I did tinder and I didn’t regret it LOL*

Namun, ternyata kita bisa ketemuan lagi dalam status sama-sama single *emang gw single mulu sih, single but happy of course yeah!* dan that’s it, every work meeting with him is a joy and we always have ridiculously weird yet fun chat.

Kita suka manggil satu sama lain, “buni”.  Kalau gw masi single, n tahu temen manggil pacarnya gini, pengen gw getok karena kyanya lebai banget. Cuma ternyata memang, begitu pacaran, kita pasti ada masa manis banget jadi semua manggil cute cute lebai, seperti “kamyu lagi ngapain ayaaank?” atau, “jangan lupa makan yah, nanti mati lho” hahaha.

Kenapa “buni”? Gatau deh, ga janjian dan gw sm dia juga ga miara kelinci. Cuma kita pernah bahas, panggilan sayang ke mantan masing-masing apa aja dan ya jangan disamain kya masa lalu. pas ga sengaja manggil d chat “buni”, rasanya pas aja dan sampai sekarang bahkan di depan umum pun, kita manggil buni.

Manis terus? gak lah, kita sering bete-betean sih, haha. *Laaa, pas gw bikin post ini, dia nyebelin lagi nih* :)) Karena gw lebih ekspresif dan emosian, dia orangnya sabar dan positip, *yang muda harus ngalah*. Tapi gw cepet emosi juga cepet hilangnya kok *defense…defense*

Dan sekarang, biarpun kita jadian kurang dari setahun, kita memutuskan untuk merencanakan menikah. Well, to be honest, rencana menikah yang di push oleh kedua orang tua gw, mengingat umur gw tahun ini sudah 32. Yeap, umur sudah harus waspada kalau mau menikah dan punya anak. Untung penampilan masi suka dikira under 29.

Takut? Jelaaas, hahaha. Sekali lagi, dia ngga. Dia yakin dan positive thinking sekali, kita bisa jalanin semua ini *bikin klepek2 ni bronis*. Ya gw banyak berdoa saja semua lancar sampai seterusnya. Kita berusaha semaksimal mungkin dan serahkan semua pada Tuhan Yesus…God will do the rest and He will give us the best.

Have a nice day world,

indri

4 pemikiran pada “He and I

  1. 32? kaget bacanya ak kira 25 sama 23 maybe XD

    yeepp cinta tak mengenal umur kok, mau bronis, popcorn apa aja deh yang penting slalu sayang satu sama lain. Dan keputusan menikah memang bukan karena alesan umur juga tp kaliannya 🙂

    Suka

    • Haha, iya banyakan pada salah tebak juga Nie, masi suka dikira kuliah. err, yaa aku si mau ga mau ada faktor umur juga, makanya gitu nemu yg cocok dan mau sama-sama komit, yaudah. Beruntunglah kamu yg bisa pny hubungan awet n bs langgeng sampe merid, jd fase adaptasinya lebih gampang 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s