Wander around at Bridestory Fair

Hallo world,

Karena kebetulan kami ke gereja di GBI Gandaria City, Minggu pagi. Selesai kebaktian, kami melipir sebentar ke pameran wedding perdananya Bridestory – hotel Sheraton Gandaria City. Penasaran seperti apa sih premium wedding exhibition dan setelah itu gw seneng banget, menghibur mata sekali.

 

IMG_4509.jpg

IMG_4512.jpg

Bridestory memperkenalkan “Hilda”, sebagai wadah dalam bentuk apps untuk melakukan transaksi pembayaran & bisa recap vendor wedding yang kita suka ataupun kasih diskon lagi buat kita.

IMG_4514

speechless, bagus banget!

 

instagram photospot

Mumpung masih pagi dan sepi, gw langsung ajak  adik ipar aja masuk tenda lutchu inii. “kok ga sama Mr. Buni?” dia masih belum tumbuh jiwa narsisnya, mending dia jadi fotografernya deh.

IMG_4519

Bunga peacock asli dari ujung ke ujung, diantara hamparan bunga ini, ditaro sofa- sofa kecil warna putih buat duduk.

IMG_4520

IMG_4522

IMG_4525

ada beberapa vendor dekor sederet ini, salah satunya yang bikin gw seneng banget dari tearose wedding decor.

IMG_4531

Tahulah si MUA femeuz ini, bagus banget ya stand dia 🙂

Distillery.jpg

Suka banget sama Letterpress style, dan ada Distillery . Karena nanya – nanya dan follow instagramnya, dapet sepaket giveaway dari mereka deh…yay!

IMG_4572

Isinya ada contoh  macam – macam kertas impor (kertas untuk letterpress ga bisa sembarangan dan belum ada di indonesia), contoh post card, kartu nama, undangan bahkan amplop dan kartu “will you be my bridesmaid?”, kereen sangat.

IMG_4526 (1)

Ga sah ya kalau datang pameran, ga deal apapun. Genggeus aja pulang tangan hampa, so…pas lihat booth Pink Parlour – wax service punya promo. Gw deal untuk brazillian wax package (hard wax juga – stroberi pula) from 1.2 Mio to 682K. Soalnya kalau deal di pameran, nanti dikorting lagi 100K sama Hilda, azeek. 

Sekian laporan singkat ke pameran ‘wah’ nya bridestory, siapa tahu kalian mendapat inspirasi dan motivasi (haha) buat acara wedding kalian.

xoxo,

Mrs. Buni

 

Sulam Alis

Hello World,

Sebelum Maret berakhir, gw bertekad buat posting satuuu aja, daripada ga sama sekali. Being Mrs. Buni ternyata lumayan berdampak buat gw. Karena gw dulu biasanya di kamar sendiri, jadi kalau mau meluangkan waktu untuk ngeblog, gampang. Kalau sekarang, susah sekali lho punya “me time” yang bener bisa diem di kamar dan fokus depan komputer.

Yaa eniwei, beberapa temen memang bilang gw si genit. soal tren perawatan atau treatment kecantikan, gw biasanya suka ikutan. mulai dari dermatologist, spa, totok wajah, wax, laser *talk about this next time*, facial. Kali ini mau cerita soal gw sulam alis!

Dari dulu, alis gw memang sudah tipis. Kebanyakan ce keturunan tionghoa punya alis shy shy cat, sudah bulunya sedikit, area tumbuhnya juga seimit. Lucunya sih, jaman kuliah dan awal masi kerja kantoran, gw ga merasa hal ini merupakan sebuah kekurangan atau sesuatu yang perlu dikoreksi.

Sampai sekitar 2 tahun yang lalu *kira – kira sih*, nyokap gw mulai suka komenin alis gw. “Alis kamu tuh dikit banget. Jadi keliatan pucet dan ga dewasa.” Mulai deh gw berkenalan dengan alat ajaib yang dinamakan pensil alis! jengjeeeeng *sound effect boleh*

Gw suka banget beli pensil alis dan gw menjadi enggan keluar rumah TANPA terlebih menggambar alis. Meme “pantang pergi sebelum alis jadi” menjadi motto hidup. Kok bisa si gambar alis? ya boow, tiap hari kamu coba aja ngegambar alis sendiri, niscaya kamu ngerti dan makin bisa gambar alis sendiri dengan cepat.

Processed with VSCOcam with hb1 preset

this is my bare face. yang kanan alis asli, yang kiri setelah gw pake pensil alis.

 

Kemudian, di TV maupun media koran, suka meliput soal tren terbaru dunia kecantikan; sulam alis 3D yang natural digandrungi selebriti. Mulai deh tuh, nyokap saranin gw supaya sulam alis aja. Tapi gw belom berani. Belum berani secara mental, belum berani secara dompet. Karena sejauh yang gw awalnya tahu tentang tren sulam alis, harganya start from 5 juta rupiah. Ya lebih murah beli pensil alis ajaa sama threading/ waxing my brows donk.

Di 2016, tren profesi make up artist, penyulam alis dan bibir semakin menjamur. Efeknya soal supply and demand…harga servisnya jadi ga semahal yang dulu. Well, penyulam yang femeuz sih tetep mahal, gw sih bo ceng li aja 6 – 8 juta buat cuma tahan 2 tahun *denial, sebenernya pengen juga, apa daya ga mampu*

Mama mertua pernah nanyain gw, “In, berapa sih harga pasaran sulam alis? mama kepengen juga.” Ternyata mama mertua dan adik ipar juga kepengen sulam, tapi masih searching tempat yang bagus namun ramah di kantong.

10 hari yang lalu, temen mama mertua rekomen penyulam yang kasih harga 2 juta buat servis sulam alis. Karena temen mama mertua ini, getol bujukin dan kasih lihat hasil alis dia yang bagus. Mamamer langsung booking buat dia dan gw sekalian!

Pertama gw worry, ni  kaga ada portfolio yang dikasih lihat dulu. Gw cuma tahu namanya Ria. Cuma, yaudah deh…nekad mode on.

IMG_4409

Pertama, digambar dulu bentuk alisnya sesuai request kita.

 

Penyulamnya – sebut saja dia Ria, dateng ke rumah temen mamamer, di sebrang rumah praktek dokter kulit Dr. Kun di belakang Senayan City. Kebetulan temen mamamer ini, pemilik klinik kecil buat facial, jadi ruangannya bisa dijadikan tempat buat sulam alis juga.

IMG_4421

kedua, disuruh tiduran *telentang yaa, masa tengkurep* untuk diberi gel anestesi dan didiamkan 20menit.

Pada bilang sulam alis ga sakit, tetooot. Buat gw sih sakit, cuma gw si keep cool aja pas disulam.  Kita harus setrooong! no pain no gain ladies. Ria sendiri ramah banget dan nyulamnya manteb, ga pake grogi whatsoever, cantik pake banget pula orangnya *sirik*. Proses sulamnya cuma 40 menit, kemudian kita punya alis seperti sinchan untuk seminggu ke depan!

IMG_4640

jengjeeng lagi, ini dia kolase proses, sebelum – setelah sulam alis dan 7 hari setelah sulam (fase peel off).

 

Selama 7 hari, alis tidak boleh kena air. Jadi selama 7 hari gw cuci muka dengan penuh kewaspadaan dan sangat hati – hati, walau in the end…tetep kena dikit sih, haha. susah book ga kena air sama sekali, gimana caranya?

IMG_4429

4 jam sekali selama 7 hari, rutin diberi gel pemberian Ria. Buat ga kering dan infeksi. Gelnya pink bening dan gw oleskan pakai cotton bud.

 

Mulai hari ke – 5, alis ‘sinchan’ atau ‘nori’ mulai terkelupas sendiri dan hari ketujuh, gw ga tahan, soalnya gatel juga. Gw colek – colek dan cabutin sisa ‘nori’ di alis. Hasilnya gw suka banget, natural dan ga perlu pake pensil alis lagiii.

Nantinya akan ada 1x sesi retouch sebulan ke depan, yaitu penambahan sulam di area alis yang “bolong”. Well, can’t wait for that.:)

Salam alis cetar,

Mrs. Buni